Ternyata, Warung Sate Ayam ini Digemari 'Bule'

TAK ada yang berbeda dari sebuah warung sate ayam di ujung taman kuliner Jogja Paradise Jalan Magelang Sinduadi Mlati Sleman. Panggangan yang ada di depan, suasana pelanggan yang sedang menikmati sate ayam seolah biasa saja layaknya warung lain pada umumnya. 

Namun, ketika kita masuk lebih dalam, ternyata warung yang diberinama Sate Ratu ini memiliki keunikan tersendiri. Pada bagian tembok yang membatasi warung ini, ada tandatangan dan kesan yang dituliskan turis-turis asing dari 71 negara di berbagai belahan dunia. 

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Bukan tanpa alasan ternyata para turis asing yang bahkan dicatat dengan seksama jumlahnya datang ke warung sate tersebut. Sang pemilik, Fabian Budi Seputro ternyata membuat mereka nyaman untuk merasakan kelezatan Sate Ayam Merah dan Lilit Kuah andalan warung ini. 

Fabian menjelaskan Warung satenya telah dikunjungi 2.791 turis asing bahkan dari Ethiopia dan Aruba ini ternyata baru berusia 3 tahun saja.  Dari Fabian pula diketahui para turis pengunjung seluruhnya datang atas kemauan sendiri dan tanpa bekerjasama dengan agen perjalanan atau guide manapun. 

“Awalnya datang tahu dari internet mungkin lalu cerita sama temannya dan ketika mereka ke Jogja mencoba, dan suka. Tiga tahun ini total kami catat 2.791 orang yang datang ke warung kami dengan jumlah negara 71, lumayan juga ternyata,” ungkapnya sembari tersenyum. 

Berbagai cerita menarik terjadi di Warung Sate Ratu di tiga tahun perjalanan seperti turis yang awalnya datang sendiri lalu kembali bersama istri hingga wisatawan asing lain yang berniat makan malam mewah dengan dress cantik dan ternyata tiga hari berturut-turut makan di warung tersebut beberapa kali dijumpai. 

“Pernah itu turis Vietnam atau mana, saya kira awalnya salah tempat kok pakai dress ternyata tiga malam kembali terus ya pakai dress juga, berarti memang niat makan malam di tempat kami. Secara person memang tamu yang datang kami ajak mengobrol jadi seru mereka suka,” sambung pria yang pernah menjadi GM tempat hiburan malam terkemuka di Yogyakarta tersebut. 

Warung Sate Ratu sendiri tak menyuguhkan menu yang beragam, hanya tiga macam saja yakni Sate Ayam Merah, Sate Kulit dan Lilit Basah. Menu-menu tersebut pun hanya dipadu dengan satu minuman hangat yakni teh tubruk yang secara langsung diracik oleh sang empunya. 

“Sate Ayam Merah ini pakai bumbu yang khas sedikit pedas tapi masih pas dilidah orang, indikasinya orang Eropa-lah karena mereka kan tak suka pedas, tapi ternyata suka dan datang lagi. Cuma tiga itu saja menu kami, tapi dibuat dengan kualitas dan harganya sama semua satu porsi Rp 23 ribu,” tandas dia. 

Menu-menu yang dibuat Fabian di Warung Sate Ratu seluruhnya berawal dari ide makanan khas Lombok Rembige yang dibawa parternya, Lanang Trisna. Lanang pula yang kemudian menemani Fabian Budi memodifikasi menu hingga tercipta sajian seperti saat ini. 

“Saya jadi rekan Pak Budi sudah sejak 1997 dulu sama-sama kerja di hotel kawasan Surabaya. Kebetulan saya asli Lombok dan tercetuslah ide buat Sate Ratu ini pada 2016 lalu, sampai sekarang ini,” imbuh Lanang yang kebetulan ada di warung. 

Baik Fabian maupun Lanang berharap, warung sate yang dikelolanya bisa jadi salah satu andalan bahkan destinasi wisata kuliner baik bagi wisatawan asing maupun domestik. Mereka bertekad menjaga kualitas sesuai raihan prestasi baik dari salah satu aplikasi travelers dunia yang disandang sejak 2017-2018 lalu. (Fxh)

 

© Copyright 2018. Ngejogja.com