Serabi Kocor Bu Ngadinem, Tak Mau Berubah Rasa

PEREMPUAN paruh baya itu terlihat menuangkan adonan berwarna putih ke dalam tungku yang terbuat dari tanah liat. Sesekali ia membuka tutup tungku lainnya untuk memastikan adonan lainnya sudah matang. Tidak membutuhkan waktu lima menit, adonan yang ia tuang tadi sudah matang, dan ia memindahkan ke nampan plastik yang beralaskan kertas nasi tak jauh darinya.

Namanya Bu Ngadinem (50) penjual serabi kocor tradisional yang terletak di pinggir jalan, tepatnya di Jalan Bantul Km 6 Dusun Nyemengan, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Saya mengenal tempat ini atas rekomendasi teman yang merupakan warga asli Jogja. Pertama kali datang ke tempat ini, saya disuguhkan dengan kios kecil yang dindingnya terbuat dari rotan dengan spanduk ‘Serabi Kocor Bu Ngadinem’. 

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

Tidak tersedia kursi untuk duduk tapi telah digelar tikar plastik dan meja kecil yang berada di dekat dengan tungku sehingga pembeli bisa menyantap sambil melihat proses serabi kocor dibuat.

Terlihat empat orang pembeli yang sedang menikmati suguhan dari Bu Ngadinem. Ketika saya masuk mereka menggeser posisi duduk mereka, karena kebetulan kios sedikit sempit untuk pembeli yang berjumlah sekitar lima orang. Sambil menunggu, saya disuguhkan anak-anak kecil yang sedang bermain air di kali bersih yang tepat berada disamping kios.  

Serabi kocor merupakan jajanan tradisional yang terbuat dari tepung beras dicampur parutan kelapa muda dan disajikan dengan disiram gula jawa yang sudah dipanaskan dicampur santan dari kelapa muda. Dalam Bahasa Jawa, kocor artinya ‘siram’.

Pesanan saya akhirnya datang. Tidak butuh waktu 10 menit, Bu Ngadinem memberikan mangkuk dengan dua buah serabi yang masih mengepul asapnya. Saat saya menikmati hidangan, Bu Ngadinem bercerita tentang usahanya yang sudah berdiri sejak tahun 1998. Hingga saat ini ia masih mempertahankan cita rasa masakannya dengan menggunakan tungku tanah liat dan menggunakan kayu bakar.

“Sengaja tetap pakai kayu bakar, biar cita rasanya tidak berubah dan tetap tradisional,” jelas Bu Ngadinem sambil membuka tutup tungku yang terbuat dari tanah liat di hadapannya.

Kios serabi kocor ini buka dari pukul 15:00 hingga pukul 20:00 WIB. Dalam sehari, sekitar 3.5 kilogram adonan serabi akan habis sebelum pukul delapan. Harga yang dipatok cukup murah, Bu Ngadinem menjual panganan tradisional ini Rp 2.500 untu dua serabi kocor dalam satu porsi. “Dulu saya menjualnya 500 seporsi mbak, tapi kan dulu waktu 1998,” jelasnya sambil tersenyum.

Perihal pelanggannya, ia juga bercerita banyak pelanggannya berasal dari luar Jogja dan mereka mendapat rekomendasi dari keluarga atau teman-temannya yang tinggal di kota Yogya. Demi menjaga eksistensi dan cita rasa serabi, ia tidak akan mengganti resep tradisional dengan resep modern seperti biasanya. “Meskipun sudah ada serabi dengan rasa yang modern, saya lebih suka serabi yang rasanya masih khas, mbak, “tutupnya. (Justika Imaniar/KR Academy)

© Copyright 2018. Ngejogja.com