Beradu Garang Menjelajahi Bukit Berbatu menuju Pantai Timang

KEMISKINAN dan kekeringan merupakan hal yang paling diingat bila menyebut kata Kabupaten Gunungkidul. Namun, kesan itu perlahan mulai memudar lantaran daerah ini mulai dipadati wisatawan. Garis pantai sepanjang 72 km dan perbukitan batu menjadi daya tarik tersendiri.

Pantai Indrayanti, Pantai Pok Tunggal hingga Pulau Timang adalah daerah yang mampu menyedot perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara. Keindahan alamnya sangat memesona, namun saat ini tersedia pilihan lain guna menikmati eloknya keindahan pantai menggunakan sarana transportasi jeep. Offroad juga menjadi daya tawar bagi wisatawan dengan sensasi yang berbeda. Menjelajahi jalanan batu kapur hingga perbukitan membuat agenda plesir semakin menarik.

Artikel Terkait : Mahasiswa Polbangtan Dampingi Masyarakat Manfaatkan Lahan Tidur

KRJOGJA.com bersama puluhan jurnalis lain berkesempatan menjajal pengalaman menantang itu di sela acara media and blogger endgagement bersama PT Bank Central Asia Tbk (BCA) akhir pekan lalu. Setelah menempuh perjalanan sekira 2,5 jam dari Yogyakarta, rombongan tiba di Radika Paradise di Tepus Kabupaten Gunungkidul. Deretan jeep offroad warna-wari sudah berjejer rapi. Alat transportasi ini akan membawa rombongan menjelajahi Pantai Timang dan menikmati matahari terbenam (sunset) di Pantai Pok Tunggal.


Jalanan dan bukit berbatu ditambah melintasi hutan jati menuju Pantai Timang menambah eksotisme sselama perjalanan (Tomi Sujatmiko)


Suara mesin jeep mulai mengaum memecahkan keheningan siang itu. Cuaca terik tak menghalangi rombongan untuk segera nge-gas. Satu persatu peserta diminta untuk naik ke mobil yang sudah dimodifikasi menggunakan roda berpenggerak depan dan belakang (4X4). Semua mobil bertampang gahar dengan empat ban pacul berukuran besar. Mengingat medan menuju Pantai Timang didominasi jalan berkelok-kelok dan bebatuan, mobil jeep menjadi pilihan transportasi terbaik. Cukup merogoh kocek sebesar Rp500 ribu, wisatawan sudah bisa menyewa satu mobil lengkap dengan supirnya. "Jangan lupa pakai maskernya," ujar salah satu pemandu wisata sembari memberikan benda tersebut kepada peserta rombongan.

Sesuai namanya, offroad, kami diajak mengarungi jalanan yang sama sekali tak mulus. Petualangan  mulai. Tujuan pertama kami adalah Pantai Timang. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi areal hutan dengan pemandangan daun-daun berguguran. Sejak dahulu, Gunungkidul dikenal memiliki karakter fisik yang gersang dan cenderung kering, terlebih di musim kemarau.

Suasana mendadak riuh ketika hembusan angin menghantam iring-iringan mobil kami. Ini bukan angin biasa, namun tercampur debu pasir yang begitu tajam. Usut punya usut, di depan kami, sedang dilakukan pelebaran jalan untuk mempermudah akses menuju beberapa destinasi wisata di Gunungkidul, termasuk jalur menuju Pantai Timang.


Perjuangan menempuh sepanjang jalan berbatu akhirnya terbayar lunas, ketika suara deburan ombak terdengar merdu di telinga. Hal ini menandakan kami telah sampai di salah satu pantai paling diburu oleh wisatawan mancanegara. Lokasi Pantai Timang sendiri terletak di Dusun Danggolo, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul. Sebelum memasuki tempat ini, pengunjung harus membayar tiket masuk seharga Rp5 ribu.

Tidak seperti pantai pada umumnya, hal yang paling menonjol dan menjadi daya tarik wisata dari Pantai Timang bukan pasir putih, atau air lautnya yang tenang, melainkan sebuah pulau yang berada di seberang pantai.  Untuk menuju pulau Watu Panjang, wisatawan harus menyewa kereta gantung (gondola) dengan biaya Rp150 ribu, atau juga bisa menggunakan jembatan gantung yang dipatok seharga Rp100 ribu. Butuh nyali garang untuk menikmati keseruan menyeberang dengan gondola dan jembatan gantung ini. Namun, faktanya wahana alam ini sangat diminati digemari wisatawan mancanegara, terutama yang berasal dari Malaysia dan Korea Selatan.

Popularitas ini tidak terlepas dari Pantai Timang menjadi tempat lokasi syuting Running Man, salah satu program reality show asal Korsel di tahun 2017. Meski lokasi sudah ditutup, masih banyak penggemar artis asal negeri ginseng yang menunggu hingga 3 hari 3 malam.

Berdasarkan keterangan Pantai Timang sudah ada sejak dulu dan Gondola dibangun pada tahun 1997 oleh nelayan setempat. Fungsinya untuk menangkap lobster di pulau seberang. Tapi baru 'meledak' di media sosial tahun 2013. Selain kereta gantung, warga juga telah membangun beberapa spot selfie yang disebar di sekitaran pantai. Puas berfoto, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pantai Pok Tunggal Di pantai inilah kami menyaksikan keindahan ciptaan sang penguasa semesta. Tepat sebelum matahari terbenam, kami tiba di pantai berpasir putih itu.

Air laut terlihat surut, namun tidak lantas menyurutkan semangat kami. Sembari menikmati momen senja, sejumlah wisatawan tampak asyik bermain air, ada pula yang berlarian di pinggir pantai, atau sekadar merasakan lembutnya pasir putih sambil menyeput air kelapa muda yang dijajakan para pedagang.

Pantai Pok Tunggal awalnya juga sering disebut sebagai surga tersembunyi karena lokasinya diapit oleh beberapa bukit kapur. Namun seiring berkembangnya teknologi, para wisatawan pun mulai memadati objek wisata ini. Panorama sunset menjadi salah satu tujuan mereka. (tomi sujatmiko)

© Copyright 2018. Ngejogja.com